Seniman Jalanan
Di jalanan, perempatan lampu merah, dalam bus kota, bahkan sampe ke pintu-pintu rumah kita. Pengamen bertebaran. Mencari recehan untuk makan. Adakalanya menghibur, adakalanya nyebelin. Yang nyebelin, di siang bolong genjrang-genjreng ga jelas di bawah pengaruh alkohol yanyi lagu-lagu balada. Kreatifitas yang menyedihkan !.
Saya termasuk yang punya pengalaman ga enak sama seniman-seniman ini, prilaku yang kurang sopan dengan menebar ancaman baru keluar dari penjara dan karena merasa lebih baik mengamen daripada mencuri tapi dengan kualitas yang sangat minim berusaha menangguk untung. Itu terjadi beberapa tahun ke belakang, sekarang kita patut bersyukur bahwa gaya-gaya preman berkedok seniman ini nyaris tak berbekas.
Seniman jalanan yang berusaha untuk bertahan hidup di kerasnya Ibukota, sebenernya sebuah pekerjaan informal yang menghasilkan cukup banyak rupiah. Bayangkan, kalo setiap seniman jalanan bisa membawa pulang 20-30 Ribu Rupiah per hari. Berapa penghasilan bulanan mereka. Itu dihitung perorangan. Kalo perkelompok kisaran pendapatan mereka mungkin bisa lebih besar. Bahkan ada yang berani menyebut angka ratusan ribu rupiah per hari. Perputaran uang yang fantastis !
Dilema pemerintah saat ini adalah kurang siapnya menyediakan lapangan kerja baru buat angkatan kerja berpendidikan apalagi tidak berpendidikan. Semakin lama, semakin tinggi. Tingkat pengangguran ini bisa diatasi dengan pembinaan para seniman jalanan dengan memberikan mereka ruang berekspresi yang lebih layak. Seperti di Taman Kota, Tempat keramaian (mall), Stasiun Kereta/Bus dan lain-lain. Dengan harapan agar profesi seniman jalanan ini tidak menjadi target operasi pemerintah daerah yang mulai merasa “gerah” dengan akselerasi seniman-seniman jalanan di hampir setiap sudut kota.
Ide penerapan PERDA tentang ketertiban umum dimana seniman jalanan disebut sebagai salah satu penyebabnya bakalan membawa implikasi bertambahnya jumlah pengangguran dan berkurangnya angka kreatifitas anak muda bangsa.
Dari seniman jalanan bukannya ga mungkin bakalan lahir seniman-seniman panggung yang bisa mengharumkan nama bangsa di dunia Internasional.
Kita tunggu aja … J
Gus Dur dan Muhaimin
Konflik keponakan dan paman di tubuh parpol ini makin memanas dari hari ke hari.
18 April kemaren kubu Gus Dur setelah menggelar rapat koordinasi dengan pengurus versi PKB Gus Dur memutuskan akan menggelar MLB pada tanggal 1 Mei 2008. Ga mo kalah sama kubu Gus Dur, Kubu Muhaimin Iskandar juga menggelar rapat koordinasi pengurus pusat yang memutuskan akan menggelar MLB PKB pada tanggal 2 Mei 2008. Kejar-kejaran kaya’ Tom dan Jerry !.
Konflik di tubuh partai ini bukan yang pertama terjadi. Dan sejarah selalu mencatat kubu Gus Dur selalu menjadi “pemenang” setiap konflik. Orang sekaliber Alwi Shihab sendiri, ga ngaruh. Padahal, Alwi Shihab adalah orang kepercayaan Gus Dur sebelum konflik terjadi. Tuduhan yang dialamatkan ke Muhaimin Iskandar kali ini adalah dia sudah menjadi alat penguasa (diperalat) tanpa disadari dirinya sendiri. Dan untuk menyelamatkan kendaraan politik warga NU perlu diadakan rotasi kepemimpinan di Dewan Tanfidz hasil Muktamar Semarang. Perlu diketahui bahwa Muktamar Semarang menghasilkan keputusan duet Gus Dur sebagai Ketua Umum Dewan Syuro dan Muhaimin Iskandar sebagai Ketua Umum Dewan Tanfidz.
Konflik ini menarik karena melibatkan dua kubu yang terhitung dekat karena posisi keponakan dan paman. Juga karena konflik ini terjadi menjelang persiapan pemilu 2009. Beberapa konflik dengan Gus Dur sebagai pemegang “kekuasaan” di PKB versus “lawan-lawanya” dengan konflik sekarang ini sedikit berbeda. Tapi, apakah hasilnya akan berbeda juga ?
Apakah Muhaimin bakalan ngikutin pendahulu-pendahulunya yang juga punya konflik dengan Gus Dur berakhir dengan “kekalahan” ?
Apakah kita bakalan ngelihat Gus Dur “keok” dengan sempurna karena selalu merasa “serba tau” ?
Kita tunggu aja akhir episodenya setelah MLB.