Target Millenium

Privasi

Posted in Hariku by targetmillenia on April 16, 2008

Suatu kondisi dimana seseorang merasa perlu diberi kesempatan tanpa ada gangguan-gangguan dari luar untuk masalah-masalah personal. Selebriti kita sering banget dikejar-kejar wartawan infotainment yang meminta/mencari-cari berita tentang kehidupan pribadi mereka.

Ada yang seneng, ada pula yang makin lama makin muak karena merasa dipojokkan dengan pemberitaan yang cenderung negatif dan tidak berpihak pada dirinya. Maraknya dunia artis dan infotainment sebagai akibat dari berkembangnya industri pertelevisian belakangan ini. Dimulai dengan berdirinya TV swasta pada permulaan 90-an, pertumbuhan TV-TV swasta berkejaran dengan semangat memperoleh informasi yang menggebu seiring dengan pengaruh era globalisasi.

Infotainment sebagai salah satu produk industri TV, bagi sebagian masyarakat bisa diartikan sebagai saluran informasi tentang kehidupan para artis idola mereka. Tapi bagi sebagian masyarakat pula produk infotainment itu digolongkan sebagai produk “tidak baik” karena cenderung lebih mengedepankan gosip yang tidak berdasarkan pada fakta ketimbang faktanya itu sendiri.

Terlepas dari kontroversi baik dan tidak baik, fakta di masyarakat minat terhadap produk infotainment masih cukup “baik” bagi para pemasang iklan agar target pasar bagi penjualan produk mereka juga bisa maksimal.

Fatwa MUI yang pernah menyatakan bahwa produk infotainment (baca : gosip) itu merupakan barang “HARAM” berdasarkan syar’iah belum bisa membendung minat masyarakat untuk tidak menikmati acara-acara infotainment.

Kebebasan memperoleh informasi bagi para produser infotainment seringkali pula dibaca secara harfiah bahwa setiap orang berhak memperoleh “apapun” informasi yang berkaitan dengan para selebritis tanpa harus ditutup-tutupi.

Permasalahan timbul ketika dua pihak berpegang pada “aturan” masing-masing. Kalo kita mo fair, sebenernya itu semua bisa dihindari. Tanpa harus memihak, privasi tidak akan terganggu ketika kita sepakat bahwa gosip itu GHIBAH !.

Dan GHIBAH itu HARAM hukumnya.

Ditandai sebagai:, , , ,

Kertas

Posted in Negeriku by targetmillenia on April 16, 2008

Sarana tulis-menulis yang umumnya dipakai para pelajar kita. Banyak kalangan juga masih membutuhkan kertas sebagai sarana bantu dalam menjalankan aktifitasnya. Contoh : pekerja kantoran yang perlu membuat arsip kerja dengan kertas, pengelola jasa travel yang perlu membuat tiket perjalanan dengan kertas, penerbit surat kabar yang perlu kertas untuk penerbitan berita hariannya, dan lain sebagainya.

Seperti kita tahu bahan baku kertas berasal dari kayu dan Indonesia merupakan salah satu paru-paru dunia dengan banyaknya pepohonan. Berkaitan dengan itu sudah bukan rahasia lagi pula bahwa pembalakan liar menjadi salah satu “kanker” yang menggerogoti paru-paru dunia ini.

Satu kasus yang menghebohkan baru-baru ini adalah terjadinya penyelundupan dari kayu dari Kalimantan dengan tujuan Malaysia. Pemerintah Malaysia menyatakan bahwa kayu-kayu yang “didatangkan” dari Indonesia itu adalah legal. Karena sudah melalui prosedur-prosedur yang berlaku di Indonesia. Sementara Pemerintah Indonesia dengan aparat-aparatnya yang terlebih dahulu menggrebek penampungan kayu olahan yang akan di “selundupkan” ke Malaysia mengklaim bahwa produk itu ilegal. Jadi, yang mana – yang benar ?

Kondisi yang sangat memprihatinkan, karena salah satu akibat ditebangnya pohoh-pohon di kawasan serapan air berakibat “musibah” banjir harus lebih di akrabi oleh sebagian besar penduduk Indonesia. Nyaris dari Sabang sampai Merauke, terdengar berita di TV Nasional – banjir melanda. Akibatnya, perekonomian terganggu – rakyat semakin merana.

Dalam waktu yang bersamaan para “aktor” pembalakan liar berleha-leha menikmati hasil pembalakan tersebut. Tidak cukup banyak “aktor” pembalakan liar yang di bui. Adelin Lis, salah satu “aktor” pembalakan liar cuma diproses sampai pada keputusan akhir pembebasan dari status tersangka.

Ada pola yang cukup menyakitkan hati rakyat, ketika kita di minta “pasrah” terhadap kondisi akibat prilaku personal-personal yang rakus harta. Merampas sumber daya seenaknya wae !.

“Yang berbuat siapa, yang harus menanggung akibat siapa ?”

Itulah Indonesia.

Ditandai sebagai:, , , ,