Target Millenium

7 Kiat Membiasakan Membaca Efektif

Ditulis dalam Hariku oleh targetmillenia pada Maret 13, 2008

1. Membaca = Memahami. Kiat pertama ini diangkat dari “firman imperative” dalam surah pertama Al-Quran, Al-Alaq, yang berbunyi “iqra”.Menurut pakar tafsir Al-Quran, Dr. M.Quraish Shihab, kata “iqra” ini terambil dari kata “qara’a” yang berarti “menghimpun”. Merujuk ke ayat pertama surah tersebut, membaca sama dengan “menghimpun makna”. Dan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, secara jelas baca (membaca) itu diartikan juga sebagai aktifitas “memahami”

2. Membaca = Memaknai. Membaca dalam arti memahami akan menjadi sangat efektif apabila dalam proses pemahaman itu sang pembaca menyertakan keinginannya atau mencantolkan “apa saja yang dimauinya” ke dalam teks-teks yang dibacanya. Proses memaknai akan memunculkan dorongan dari dalam atau antusiasme yang menggila untuk terus mau membaca.

3. Membaca = Memperluas wawasan yang memperkaya perspektif. Kiat ketiga ini merupakan salah satu contoh memaknai dalam tingkat yang sangat “umum”. Namun, sifat keumuman ini menjadi penting karena sifat kepastiannya (yaitu bila dalam proses membaca itu seseorang mampu menempuh secara benar dua kiat sebelumnya). Bisa jadi, seseorang yang kurang suka membaca buku, agak kesulitan untuk memandang suatu persoalan secara luas dan meninjaunya dari pelbagai sudut pandang.

4. Kecintaan membaca = Kecintaan Belajar. Kiat keempat ini merupakan pemupukan atau pembiasaan aktivitas membaca yang memenuhi syarat ketiga kiat sebelum ini. Bagi para pembaca tekun, tumpukan pemahaman, pemaknaan, dan kekayaan ilmu akan membuatnya mencintai aktivitas mulia ini. Ada pepatah Jawa yang menarik, yaitu writing tresno jalaran suko kulino. Dan menurut pakar membaca Mary Leonhardt, kecintaan membaca identik dengan kecintaan untuk mempelajari sesuatu yang baru atau yang akan terjadi

5. Kita harus gemar membaca agar dapat membaca dengan baik. Pembiasaan – baik membaca yang dipupuk sedikit demi sedikit disertai kesabaran tinggi akan membuahkan suatu kegemaran. Atau, kalau susah sekali memantik minat untuk sungguh-sungguh membaca, ya berusaha-keraslah untuk menggemari aktivitas membaca. Kegemaran akan melahirkan penemuan sutu metode efektif dalam hal membaca sesuai dengan karakter masing-masing pembaca. Misalnya, secara otomatis, seorang pembaca akan tiba-tiba mencatat, memberi tanda, dan mensistematisasi aktivitas membacanya.

6. Membaca dengan baik = menyantap “makanan ruhani” secara teratur, sebagaimana kita melakukan sarapan pagi, makan siang, diselingi “ngemil” di sore hari, dan akhirnya makan malam.
Ini contoh pemaknaan sederhana atas hasil yang diharapkan lahir dari kiat kelima. Akhirnya toh, sebagaimana pernah disampaikan oleh pujangga Inggris, “We first our habits, then our habits make us”.Pada mulanya, kitalah yang menciptakan kebiasaan. Lama –kelamaan, kebiasaan yang kita ciptkan itulah yang membangun watak kita.

7. Membaca adalah salah satu ektivitas terpenting sepanjang hayat, lebih-lebih lagi di era Internet yang sarat percepatan dan perubahan seperti saat ini.
Kiat terakhir ini semacam sugesti :pembangkit harapan dan semangat. Bagaimana kita mampu mengejar ketinggalan atau menyesuaikan dengan perubahan yang tengah terjadi bila kita enggan belajar terus lewat kegiatan yang paling mudah:membaca? (Hernowo, Mengikat Makna, Bandung:Kaifa, 2004, dikutip oleh Tuty Juliaty)

(Saya kutip dari website juga, tapi mohon maaf buat penulis aslinya. informasi web link-nya ga lengkap..)

Paru-Paru

Ditulis dalam Hariku oleh targetmillenia pada Maret 12, 2008

Fungsi dan perananya sangatlah vital.

Sebuah kota tanpa paru-paru akan jadi kota yang gersang dan penuh dengan polusi kendaraan bermotor. Penyerap dan penahan laju keracunan udara yang kita hirup akan sulit diminimalisir tanpa paru-paru kota (pepohonan).

 

Bayangin kalo itu manusia, pernapasanya bisa jadi kaya apa ya ?

 

Gangguan pada alat pernapasan level terendah aja, batuk-batuk ringan. Ngeganggu banget aktifitas kita. Yang bekerja, belajar di sekolah atao lagi di dalam kendaraan umum bisa bikin suasana ga nyaman buat sekeliling dan kita kita sendiri.

 

Faktor lingkungan yang kurang bersih dan banyaknya debu-debu ngasih sumbangan paling gede buat rusaknya fungsi pernapasan. Pernah ga ngunjungin perpustakaan, koleksi-koleksi yang masih baru mungkin ga nyimpan banyak debu tapi koleksi-koleksi buku dari taon kuda gigit “martil” (besi) ga kebayang debunya. Coba sekali-kali di buka.

 

Dedikasi petugas perpustakaan itu sebenernya perlu diacungin jempol. Karena dia setiap hari ada di lingkungan yang ga bisa di anggap enteng secara polutan. Manfaat dari segi keilmuan bisa ditakar dari ga sedikitnya mahasiswa/pelajar, pencari informasi yang tertolong ketika buku yang dicari ga ketulungan harganya.

 

Kalo paru-paru bisa di serep kaya ban, mungkin petugas perpustakaan udah punya serep paru-paru selemari kali……