Hari Bumi
PBB sebagai badan dunia telah menetapkan hari ini sebagai HARI BUMI.
Satu hari dimana seluruh umat manusia yang ngendon di bumi, diharapkan dapat lebih bersahabat dengan bumi dan se-isinya.
Banyak perihal yang perlu diperhatiin dalam kehidupan kita sehari-hari. Mulaiin dari mengurangi penggunaan material yang ga bisa didaur ulang sampai mencoba untuk mengelola dan mengolah penggunaan sampah. Sampah ini merupakan produk buangan yang ga ada habisnya. Dan rata-rata orang ogah/emoh berhubungan dengan sampah. Walhasil, penumpukan jumlah sampah semakin menjadi-jadi.
Dilingkungan rumah saya sendiri, pemandangan ga sedap seperti itu nyaris ga pernah absen. Bau yang ga enak, jumlah yang makin bertambah banyak, penanganan yang kurang bijak menjadi rantai daur hidup sebagaian warga kota.
Saya termasuk orang yang percaya bahwa penanganan masalah sampah ini bisa diatasi. Paling ga bisa di minimalisir. Dengan penggunaan kemasan yang bisa didaur ulang juga pemilahan sampah yang bisa di daur ulang dengan sampai yang tidak bisa didaur ulang atau sampah basah dengan sampah kering. Pastinya akan memberikan efek yang cukup besar ketika itu dilakukan setiap rumah tangga. Jumlah sampah yang dibuang dan bisa diolah kembali akan dengan sendirinya tercipta dan terjaga. Klo kita mo sadar dan peduli dengan sampah aja, sebenernya kita udah melakukan tindakan yang sangat bersahabat dengan bumi.
Apakah anda termasuk yang peduli dengan sampah ?
Belanja
Dalam masyarakat modern jumlah belanja sebuah keluarga tidak bisa dibilang kecil. Di masyarakat perkotaan seperti Jakarta, ada pandangan bahwa belanja sudah jadi ajang rekreasi keluarga. Makanya, sekarang ini berjamur jumlah mall.
Secara kuantitatif jumlah mall dibanding dengan pasar tradisional sangatlah tidak seimbang. Yang seharusnya jumlah pasar tradisional lebih banyak, malah kalah dengan pasar modern (mall). Sekali lagi suatu bentuk keberpihakan kepada pemilik modal ketimbang rakyat.
Kemegahan bangunan mall, menyilaukan mata para pemodal. Mereka lebih senang menanam modal ke dalam kemegahan ketimbang kebutuhan sebagian besar masyarakat. Fakta bahwa kehidupan masyarakat tidaklah semakin mudah dengan semakin tingginya biaya hidup dikarenakan kenaikan berbagai kebutuhan dan “pungutan” lebih menarik untuk di “sentuh”. IRONIS !.
Regulasi untuk pembangunan sebuah mall seperti lebih mudah daripada memperbaiki atau bahkan mendirikan sebuah pasar tradisional. Pedagang-pedagang kecil macam di Barito yang telah puluhan tahun berdagang bunga dan ikan hias akhirnya harus mengalah untuk dipindahkan ke areal yang lebih kecil di kawasan Radio Dalam.
Dari segi peraturan, boleh jadi pedagang-pedagang itu tidak benar. Tapi, gejala-gejala yang menunjukkan kurang berpihaknya pemerintah (pusat/daerah) terhadap pasar tradisional yang lebih banyak di kunjungi rakyat kecil adalah trend masuknya retailer-retailer asing seperti Carrefour dari Perancis.
Target pasarnya sudah barang tentu dari kelas menengah ke atas. Dengan segala fasilitas yang diberikan untuk kenyamanan berbelanja pelanggan dan fasiiltas-fasilitas lainnya sangat berbanding terbalik dengan “fasilitas” yang diberikan pasar-pasar tradisional. Tak jarang komentar yang keluar dari mulut konsumen adalah “jauh dari kesan memuaskan” bila ditanya tentang fasilitas yang ada di pasar tradisional. Karena memang demikian adanya.
Jangan tanya kenyamanan kalo berkunjung ke pasar tradisional. Justru aneh, apabila kita bertanya apakah pasar modern (mall semrawut). Dua-duanya sudah identik dengan predikat masing-masing. Pula, kedua-duanya mewakili strata masyarakat pengunjungnya. Rata-rata atau dibisa dikatakan dari sekian banyak pengunjung masing-masing pasar adalah golongan yang sudah terbentuk dengan sendirinya. Pasar tradisional dengan masyarakat kelas menengah ke bawah dan Pasar modern (mall) dengan kelas masyarakat menengah ke atas.



tinggalkan komentar