Target Millenium

Fenomena Atau Budaya?

Posted in Negeriku by targetmillenia on Oktober 21, 2008

Era komunikasi yg semakin canggih memungkinkan kita mendapatkan informasi dari belahan dunia yang ga kebayang/kefikir bisa kita jejakan kaki disana.

Kecanggihan informasi melalui satelit udah bisa kita rasain juga dalam kehidupan sehari-hari kita. Contoh paling sederhana, dimana pesawat telepon yang dulu cuma bisa dinikmati oleh kalangan berada dengan kocek tebal sekarang bak kacang goreng-bisa dibeli “seribu perak sekantong plastik”- artinya perkembangan teknologi udah bukan monopoli kalangan berada. semakin berkembang teknologi semakin murah harganya. Prinsip supply and demand sangat berlaku disini.

Menarik benang merah dari itu semua, budaya bangsa yang sering menilai norma-norma/aturan sosial seenaknya wae cenderung semakin membuat negeri kita tercinta terpuruk kedalam jurang yang semakin dalam. Degradasi moral menjadi sebuah keyword yang cukup menohok kedalam sanubari, ketika sebuah norma/aturan sosial diterjemahkan secara individualistis.

Kita tentu udah pernah nonton tayangan di TV tentang liputan birokrat (pegawai pemerintah) yang sering mangkir jam kerja dengan berbagai alasan. Alasan yang sangat dibuat-buat. Inilah yang coba saya sampaikan dimana norma/aturan sosial yang senantiasa diterjemahkan secara individualistis. Sebagai bagian dari masyarakat yang terus menerus melihat tingkat kedisplinan, loyalitas, dan lain sebagainya berbanding terbalik dengan kondisi persaingan dunia tenaga kerja. Dimana tingkat penyerapan tenaga kerja untuk fresh graduate sangat minim. Belum lage dengan tuntutan profesionalitas pegawai. Sangat timpang.

PNS/Birokrat dalam posisi ini sangatlah “bijak” jika kita menyematkan kata PENYAMUN sebagai identitas mereka. Karena dengan ketidakpedulian mereka, kondisi birokrasi semakin minus. Alasan kesejahterahan kurang menjadi jurus pamungkas ketika sebuah pertanyaan diajukan berkaitan dengan tingkat kedisplinan pegawai. Sungguh aneh !

Anehnya lagi, masyarakat kita masih mengagung-agungkan jabatan sebagai PNS/Birokrat ini. Cerminya adalah ketika perekrutan pegawai baru dibuka, jutaan orang berebut posisi sampai-sampai ada yg rela ditato wajahnya.

Sungguh pengorbanan yang ga masuk akal.

Kesombongan Diri

Posted in Hariku by targetmillenia on September 3, 2008

Dalam suatu perjalanan dari Bandara Soekarno-Hatta, saya terlibat pembicaraan dengan sopir taksi yang saya tumpangi. Biasalah, obrolan ngalor-ngidul….

Sang sopir bercerita tentang pengalamannya mengemudi mulaiin dari sopir tembak angkot, nyopirin mobil abangnya, sampe nyopirin seorang jendral polisi pun pernah. Terakhir dia punya gawe ya… nyopir taksi itu.

Dalam obrolan ngalor-ngidul itu, sang sopir bercerita ketika dia punya kesempatan nyupirin jendral polisi dulu. Curhat-curhatan sang jendral ke supir ini salah satunya adalah ketika sang jendral menerima telpon yang berisi caci maki dari orang yang punya pangkat diatasnya. Kata2 yang dipake itu kaya’ : Anjing, Bangsat, Kutu Busuk, dan kata-kata kasar lain yang biasa kita denger diucapin oleh orang-orang di pasar yang kurang berpendidikan.

Kekesalan yang memuncak menjadi semacam legitimasi bagi orang yang merasa punya “power” untuk melakukan apapun semaunya.

Kondisi serupa saya alamin juga.

Di tempat kerja, ada seorang teman. Klo Melihat senioritas, saya lebih senior daripada dia dalam segi apapun. Tapi dalam jenjang karir/posisi saya akui memang dia lebih beruntung daripada saya. Perilakunya nyaris ga beda dengan contoh yang saya tulis diatas. Perilaku yang merasa powerfull ato mungkin sebuah tingkah laku yang tergerus egoisme pribadi bahwa dia lebih hebat daripada saya ?

Suatu kesalahan kecil yang tidak perlu dibesar-besarkan menjadikan amarahnya keluar seperti gunung meletus dengan mengeluarkan lahar-lahar panasnya. LEBAY !

Sebuah kondisi yang saya percaya anda juga pernah ngalamin.

Potret dari masyarakat kita yang sakit. Sebuah norma sopan santun tidak lagi berlaku. Perlahan-lahan hilang dengan irama hidup masyarakat perkotaan yang sangat HEDONIS.

Percayalah semua ada batasannya. Tidak perlu merasa diri lebih daripada orang lain.