Target Millenium

Pencerahan Untuk Perubahan

Pilih Tetap atau Pergi

Ditulis oleh targetmillenia di/pada Juli 2, 2008

Kondisi yang perlu dipertimbangkan ketika kita udah menjalani waktu kerja cukup lama dalam suatu perusahaan. Rentang waktu yang lama (diatas 5 tahun) tapi indikasi berkembang ke arah yang lebih baik dari hari ini punya nilai minus, udah sewajarnya membuka pertimbangan terhadap kemungkinan-kemungkinan lain. Alias bersiap-siap mencari kerjaan baru.

Kondisi menjadi berbeda total ketika kita udah “terjebak” dalam suatu kondisi yang berakibat pada keenganan untuk meniti karir kembali dari nol di tempat lain. Mungkin kata “terjebak” buat anda punya nilai negatif ketimbang positif. Secara pribadi saya setuju. Tapi untuk sebagian orang kondisi seperti ini tidak bisa dipersalahkan 100%.

Ada suatu kondisi dimana masa kerja yang punya rentang waktu diatas 5 tahun, tapi ga ada tanda-tanda bakalan diangkat jadi pegawai tetap. Contoh paling simple aja, sekarang ini para guru bantu khususnya di DKI Jakarta lagi ribut menuntut kejelasan nasib agar bisa disamakan/diangkat sebagaimana “teman-teman” mereka yang udah terlebih dahulu masuk formasi pengangkatan CPNS.

Nasib para CPNS yang udah masuk formasi itu sendiri sebenernya juga ga bagus-bagus amat. Masa kerja yang lama ga ngejamin mereka di angkat secara otomatis. Karena ada kebijakan baru di era pemerintahan SBY ini, sebagian dari mereka bisa bernafas lega dan pada akhirnya bisa tersenyum karena SK Pengangkatan sebagai PNS diterima.

Point utama dari tulisan ini bukan menilai kinerja pemerintahan SBY, tapi pada kepantasan / kepatutan yang harus diterima seorang pegawai dengan masa kerja yang lama yang kemudian berdampak pada psikologis mereka. Dampak itu adalah merasa “terjebak” dalam masa pengabdian yang sebenernya secara logika ga perlu dialamin/diterima.

Untuk pegawai/pekerja yang masih punya waktu (usia produktif) relatif masih lama. Kondisi ini masih bisa di akal-akalin bila memang pekerja tersebut masih merasa “betah” untuk mengabdi pada perusahaan/institusi yang dimaksud. Salah satunya dengan mengambil atau mencoba mencari side job selain main job-nya. Entah itu dikerjakan pada saat bersamaan atau setelah tugas utamanya. Tergantung pada kemampuan si pekerja untuk memainkan “emosi” atasannya.

Outsourcing menjadi ancaman bagi para pekerja swasta, karena sistem kontrak dengan masa waktu tertentu dijadikan alasan bagi perusahaan untuk tidak menanggung semua kewajiban yang harus dibayarkan kepada pekerjanya. Dan dengan mudahnya perusahaan memutus kontrak ketika merasa fee yang harus dikeluarkan menjadi semakin “besar” padahal itu umumnya sudah menjadi hak dari pekerja. Tentunya dengan alasan-alasan yang “rasional”.

Keberpihakan pada pekerja faktanya masih sangat minim. Pengangkatan CPNS dalam era SBY tidak lebih dari suatu “keterpaksaan” karena sumber daya yang makin lama makin menipis seiring dengan masuknya masa pensiun ketimbang suatu program berkelanjutan dari pemerintah.

Regulasi keluaran Eksekutif dan Legislatif juga masih berpihak pada pemilik modal ditandai dengan masih maraknya demo-demo karyawan menuntut hak mereka agar dibayar perusahaan. Apakah perusahaan-perusahaan itu peduli ?

Anda sendiri yang menilai.

Ditulis dalam Hariku | Tidak ada komentar »

Hari Bumi

Ditulis oleh targetmillenia di/pada April 22, 2008

PBB sebagai badan dunia telah menetapkan  hari ini sebagai HARI BUMI.

Satu hari dimana seluruh umat manusia yang ngendon di bumi, diharapkan dapat lebih bersahabat dengan bumi dan se-isinya.

Banyak perihal yang perlu diperhatiin dalam kehidupan kita sehari-hari. Mulaiin dari mengurangi penggunaan material yang ga bisa didaur ulang sampai mencoba untuk mengelola dan mengolah penggunaan sampah. Sampah ini merupakan produk buangan yang ga ada habisnya. Dan rata-rata orang ogah/emoh berhubungan dengan sampah. Walhasil, penumpukan jumlah sampah semakin menjadi-jadi.

Dilingkungan rumah saya sendiri, pemandangan ga sedap seperti itu nyaris ga pernah absen. Bau yang ga enak, jumlah yang makin bertambah banyak, penanganan yang kurang bijak menjadi rantai daur hidup sebagaian warga kota.

Saya termasuk orang yang percaya bahwa penanganan masalah sampah ini bisa diatasi. Paling ga bisa di minimalisir. Dengan penggunaan kemasan yang bisa didaur ulang juga pemilahan sampah yang bisa di daur ulang dengan sampai yang tidak bisa didaur ulang atau sampah basah dengan sampah kering. Pastinya akan memberikan efek yang cukup besar ketika itu dilakukan setiap rumah tangga. Jumlah sampah yang dibuang dan bisa diolah kembali akan dengan sendirinya tercipta dan terjaga. Klo kita mo sadar dan peduli dengan sampah aja, sebenernya kita udah melakukan tindakan yang sangat bersahabat dengan bumi.

Apakah anda termasuk yang peduli dengan sampah ?

Ditulis dalam Hariku | yang berkaitan: , , , | Tidak ada komentar »

Belanja

Ditulis oleh targetmillenia di/pada April 22, 2008

Dalam masyarakat modern jumlah belanja sebuah keluarga tidak bisa dibilang kecil. Di masyarakat perkotaan seperti Jakarta, ada pandangan bahwa belanja sudah jadi ajang rekreasi keluarga. Makanya, sekarang ini berjamur jumlah mall.

Secara kuantitatif jumlah mall dibanding dengan pasar tradisional sangatlah tidak seimbang. Yang seharusnya jumlah pasar tradisional lebih banyak, malah kalah dengan pasar modern (mall). Sekali lagi suatu bentuk keberpihakan kepada pemilik modal ketimbang rakyat.

Kemegahan bangunan mall, menyilaukan mata para pemodal. Mereka lebih senang menanam modal ke dalam kemegahan ketimbang kebutuhan sebagian besar masyarakat. Fakta bahwa kehidupan masyarakat tidaklah semakin mudah dengan semakin tingginya biaya hidup dikarenakan kenaikan berbagai kebutuhan dan “pungutan” lebih menarik untuk di “sentuh”. IRONIS !.

Regulasi untuk pembangunan sebuah mall seperti lebih mudah daripada memperbaiki atau bahkan mendirikan sebuah pasar tradisional. Pedagang-pedagang kecil macam di Barito yang telah puluhan tahun berdagang bunga dan ikan hias akhirnya harus mengalah untuk dipindahkan ke areal yang lebih kecil di kawasan Radio Dalam.

Dari segi peraturan, boleh jadi pedagang-pedagang itu tidak benar. Tapi, gejala-gejala yang menunjukkan kurang berpihaknya pemerintah (pusat/daerah) terhadap pasar tradisional yang lebih banyak di kunjungi rakyat kecil adalah trend masuknya retailer-retailer asing seperti Carrefour dari Perancis.

Target pasarnya sudah barang tentu dari kelas menengah ke atas. Dengan segala fasilitas yang diberikan untuk kenyamanan berbelanja pelanggan dan fasiiltas-fasilitas lainnya sangat berbanding terbalik dengan “fasilitas” yang diberikan pasar-pasar tradisional. Tak jarang komentar yang keluar dari mulut konsumen adalah “jauh dari kesan memuaskan” bila ditanya tentang fasilitas yang ada di pasar tradisional. Karena memang demikian adanya.

Jangan tanya kenyamanan kalo berkunjung ke pasar tradisional. Justru aneh, apabila kita bertanya apakah pasar modern (mall semrawut). Dua-duanya sudah identik dengan predikat masing-masing. Pula, kedua-duanya mewakili strata masyarakat pengunjungnya. Rata-rata atau dibisa dikatakan dari sekian banyak pengunjung masing-masing pasar adalah golongan yang sudah terbentuk dengan sendirinya. Pasar tradisional dengan masyarakat kelas menengah ke bawah dan Pasar modern (mall) dengan kelas masyarakat menengah ke atas.

Ditulis dalam Hariku | yang berkaitan: , , , | Tidak ada komentar »

Seniman Jalanan

Ditulis oleh targetmillenia di/pada April 21, 2008

Di jalanan, perempatan lampu merah, dalam bus kota, bahkan sampe ke pintu-pintu rumah kita. Pengamen bertebaran. Mencari recehan untuk makan. Adakalanya menghibur, adakalanya nyebelin. Yang nyebelin, di siang bolong genjrang-genjreng ga jelas di bawah pengaruh alkohol yanyi lagu-lagu balada. Kreatifitas yang menyedihkan !.

Saya termasuk yang punya pengalaman ga enak sama seniman-seniman ini, prilaku yang kurang sopan dengan menebar ancaman baru keluar dari penjara dan karena merasa lebih baik mengamen daripada mencuri tapi dengan kualitas yang sangat minim berusaha menangguk untung. Itu terjadi beberapa tahun ke belakang, sekarang kita patut bersyukur bahwa gaya-gaya preman berkedok seniman ini nyaris tak berbekas.

Seniman jalanan yang berusaha untuk bertahan hidup di kerasnya Ibukota, sebenernya sebuah pekerjaan informal yang menghasilkan cukup banyak rupiah. Bayangkan, kalo setiap seniman jalanan bisa membawa pulang 20-30 Ribu Rupiah per hari. Berapa penghasilan bulanan mereka. Itu dihitung perorangan. Kalo perkelompok kisaran pendapatan mereka mungkin bisa lebih besar. Bahkan ada yang berani menyebut angka ratusan ribu rupiah per hari. Perputaran uang yang fantastis !

Dilema pemerintah saat ini adalah kurang siapnya menyediakan lapangan kerja baru buat angkatan kerja berpendidikan apalagi tidak berpendidikan. Semakin lama, semakin tinggi. Tingkat pengangguran ini bisa diatasi dengan pembinaan para seniman jalanan dengan memberikan mereka ruang berekspresi yang lebih layak. Seperti di Taman Kota, Tempat keramaian (mall), Stasiun Kereta/Bus dan lain-lain. Dengan harapan agar profesi seniman jalanan ini tidak menjadi target operasi pemerintah daerah yang mulai merasa “gerah” dengan akselerasi seniman-seniman jalanan di hampir setiap sudut kota.

Ide penerapan PERDA tentang ketertiban umum dimana seniman jalanan disebut sebagai salah satu penyebabnya bakalan membawa implikasi bertambahnya jumlah pengangguran dan berkurangnya angka kreatifitas anak muda bangsa.

Dari seniman jalanan bukannya ga mungkin bakalan lahir seniman-seniman panggung yang bisa mengharumkan nama bangsa di dunia Internasional.

Kita tunggu aja … J

Ditulis dalam Hariku | yang berkaitan: , , , , , | Tidak ada komentar »

Gus Dur dan Muhaimin

Ditulis oleh targetmillenia di/pada April 21, 2008

Konflik keponakan dan paman di tubuh parpol ini makin memanas dari hari ke hari.

18 April kemaren kubu Gus Dur setelah menggelar rapat koordinasi dengan pengurus versi PKB Gus Dur memutuskan akan menggelar MLB pada tanggal 1 Mei 2008. Ga mo kalah sama kubu Gus Dur, Kubu Muhaimin Iskandar juga menggelar rapat koordinasi pengurus pusat yang memutuskan akan menggelar MLB PKB pada tanggal 2 Mei 2008. Kejar-kejaran kaya’ Tom dan Jerry !.

Konflik di tubuh partai ini bukan yang pertama terjadi. Dan sejarah selalu mencatat kubu Gus Dur selalu menjadi “pemenang” setiap konflik. Orang sekaliber Alwi Shihab sendiri, ga ngaruh. Padahal, Alwi Shihab adalah orang kepercayaan Gus Dur sebelum konflik terjadi. Tuduhan yang dialamatkan ke Muhaimin Iskandar kali ini adalah dia sudah menjadi alat penguasa (diperalat) tanpa disadari dirinya sendiri. Dan untuk menyelamatkan kendaraan politik warga NU perlu diadakan rotasi kepemimpinan di Dewan Tanfidz hasil Muktamar Semarang. Perlu diketahui bahwa Muktamar Semarang menghasilkan keputusan duet Gus Dur sebagai Ketua Umum Dewan Syuro dan Muhaimin Iskandar sebagai Ketua Umum Dewan Tanfidz.

Konflik ini menarik karena melibatkan dua kubu yang terhitung dekat karena posisi keponakan dan paman. Juga karena konflik ini terjadi menjelang persiapan pemilu 2009. Beberapa konflik  dengan Gus Dur sebagai pemegang “kekuasaan” di PKB versus “lawan-lawanya” dengan konflik sekarang ini sedikit berbeda. Tapi, apakah hasilnya akan berbeda juga ?

Apakah Muhaimin bakalan ngikutin pendahulu-pendahulunya yang juga punya konflik dengan Gus Dur berakhir dengan “kekalahan” ?

Apakah kita bakalan ngelihat Gus Dur “keok” dengan sempurna karena selalu merasa “serba tau” ?

Kita tunggu aja akhir episodenya setelah MLB.

Ditulis dalam Negeriku | yang berkaitan: , , , , , | Tidak ada komentar »

Hobi

Ditulis oleh targetmillenia di/pada April 21, 2008

Permainan, koleksi, aktivitas, dan lain-lain bisa dikategorikan sebagai hobi kalo dijalanin dalam waktu senggang dan bukan dijadikan aktivitas utama. Malah ga sedikit orang yang mulanya punya hobi sekedar iseng ngisi waktu luang, berubah jadi pekerjaan utama yang menghasilkan jutaan rupiah ke rekeningnya.

Fantastis !.

Waktu kita coba belajar dari pengalaman Anne Ahira, seorang internet marketer asal Bandung. Berkutat dengan komputer dan internet di kamarnya untuk sekian lama (kalo beguru ilmu kebatinan sama dengan semedi). Bisa menghasilkan jutaan dollar, bukan lagi rupiah !.

Terlepas dari motif awalnya sekedar hobi atau emang diniatin untuk jadi seorang internet marketer yang pasti hasil dari sekian lama menekuni dunia yang buat sebagian orang Indonesia masih ga umum udah mengantar Anne Ahira menjadi salah satu jutawan di dunianya.

Inspirasional buat para pemula yang baru bisa melek internet. Tapi jangan pula terbuai dengan mimpi-mimpi bakalan instan jadi kaya gara-gara nekunin bisnis internet. Setiap usaha perlu pengorbanan dan dedikasi. Mencapai suatu prestasi mungkin aja tergolong mudah dan bisa dilakukan hampir semua orang, tapi menjaga prestasi tetap jadi nomor wahid itu yang ga gampang.

Selamat menggeluti hobi anda dan Selamat berjuang !

Ditulis dalam Motivasi | yang berkaitan: , , , , , , | Tidak ada komentar »

Manajemen Diri Artis

Ditulis oleh targetmillenia di/pada April 21, 2008

Perlu dicatat bahwa kesuksesan itu diraih dengan sangat susah payah. Ga gampang. Perlu perjuangan ekstra !.

Merebaknya stasiun TV baru - apalagi sekarang udah makin banyak daerah yang punya stasiun TV lokal - berimbas pada semakin terbukanya peluang menjadi pekerja seni. Artis-artis baru setiap hari bermunculan kaya’ jamur di musim hujan. Perkara bisa atao ga maen sinetron/berperan di layar kaca, kaya’ nya seh belom menjadi standar utama karena perkembangan dunia hiburan juga masih terhitung “muda”.

Modal tampang Indo/Blasteran, ganteng-cantik, bohay-sexy, berani beradegan sensual dan lain-lain yang mengundang sensasi menjadi jalur singkat menjadi seorang artis tenar dengan seabreg kegiatan dan se-“gunung” uang di rekening Bank. Relatif, artis-artis baru mampu bekerja dari pagi ketemu pagi alias nguber setoran. Karena efek dari semakin banyaknya kebutuhan akan pemain-pemain baru mengakibatkan semakin banyak anak-anak muda yang tertarik untuk menjadi artis, walhasil perputaran/siklus “hidup” dunia artis menjadi sangat pendek. Mumpung masih terkenal dan laris manis dipake PH (Production House) prinsip “HAJAR BLEH !” jadi pilihan utama agar pundi-pundi rupiah terus bertambah dan bertambah.

Pengorbanan artis-artis muda ini seringkali ga sepadan dengan usia mereka. Usia yang seharusnya disibukkan dengan mencari ilmu dan belajar malah dihabiskan didepan kamera untuk mencari uang.

Perdebatan tentang masalah baik atau ga’ -nya dan pantas atau ga’ -nya anak-anak usia muda bekerja ga jarang juga dibawa kepada pembenaran bahwa itu adalah hak asasi orang yang bersangkutan. Jadi tidak ada hak orang lain untuk mengomentari/mengatur boleh atau ga’ -nya anak-anak usia dini tersebut berkecimpung di dunia entertainment. Pembelaan untuk itu ga cuma berhenti di situ aja. Point yang seringpula diutarakan oleh orang tua artis muda adalah ga’ adanya niatan untuk mengeksploitasi – apalagi mengeksploitasi - masa kanak-kanak dan waktu belajarnya karena semua dilakukan artis-artis muda itu dengan senang hati dan tanpa paksaan.

Faktanya orientasi dunia anak muda sekarang ini emang dipenuhi dengan gambaran keindahan dunia selebritis yang penuh glamor, senang-senang, banyak uang dan terkenal. Perkembangan teknologi ngedukung semua itu. Karena piilhan-pilihan jadi bertambah banyak dan beragam tapi jangan dilupa’in efeknya ada yang baik juga ada yang kurang baik. Efek yang kurang baik ini cenderung ga dipikirin dengan alasan-alasan personal dan opini yang terbentuk (ato dibentuk kali yee…) lebih didominasi oleh pendapat : “Sah-Sah aja !” atau “Hak Pribadi”.

Emang itu sah-sah aja dan menjadi hak pribadi kta-kita sebagai anak muda, tapi perlu diperhatiin juga klo bisa jadi artis yang punya intelektual tinggi itu lebih baik ketimbang menjadi seorang artis yang senengnya bikin “sensasi”. Be a value added artist, guys !.

Pendidikan adalah hal utama buat kita anak-anak muda. Karena masa muda adalah masa menuntut ilmu bukan mencari uang.

Ditulis dalam Hariku | yang berkaitan: , , , , , , , | Tidak ada komentar »

Hubungan Kerja

Ditulis oleh targetmillenia di/pada April 21, 2008

Dalam menjalani suatu profesi pastinya selalu ada pasang surut. Naik turunnya prestasi ga serta merta disebabkan oleh ketidakmampuan akademis/intelektual setiap orang. Banyak faktor yang mempengaruhi terbentuknya suatu prestasi. Kedekatan secara personal terhadap pembuat kebijakan salah satunya. Kalo kita sering bergaul sama Bos-Bos atau yang lebih rendah levelnya tapi masih ada pengaruhnya ketika membuat keputusan pasti udah hapal dan ga heran dengan akibat/pengaruh kedekatan itu.

Brillian, kalo kita bisa menapaki karir tanpa bantuan pembuat keputusan/kebijakan. Karena hampir bisa dibilang mustahil. Setiap pergantian posisi perlu pertimbangan dan masukan sebelum diambil keputusan. Perubahan posisi itu pula seringkali dipengaruhi oleh kedekatan personal dan emosional para pembuat kebijakan.

Menapaki karir dari bawah tanpa embel-embel bantuan/dorongan dari atasan langsung seperti mengharap turun hujan “bekelir” (berwarna-warni). Karena memang begitulah tingkatannya, perlu disadari bagi bawahan bahwa pembuat kebijakan seringkali bertindak semau “udel”-nya. Egoisme pribadi kerap kali dilakukan tanpa memperhatikan ke-“indahan” hubungan antara bawahan dan atasan. Sebenernya atasan sendiri juga ga bisa bekerja tanpa bantuan bawahan. Jadi kesombongan dalam membuat keputusan harus bisa dikontrol.

Tingkat pendidikan atasan juga ga mempengaruhi seorang atasan bisa memimpin atau mengambil keputusan dengan baik. Seringkali pula dalam pengambilan keputusan lebih kental nuansa “senang-ga senang” bagi bawahan. Pengaruh ini cenderung ga baik bagi suasana kerja. Konsep “senang-ga senang” atasan ketika membuat keputusan buat bawahan udah umum terjadi. Dan yang menjadi korban, sekali lagi adalah bawahan. Ada baiknya apabila kita kebetulan memegang kendali untuk mengambil keputusan - entah itu dalam organisasi skala kecil atau besar – utamakan obyektifitas ketimbang subyektifitas. Karena cepat atau lambat semua akan berbalik kepada diri kita sendiri. Hukum KARMA akan selalu berlaku.

Percayalah !

Ditulis dalam Hariku | yang berkaitan: , , , , , | Tidak ada komentar »

Buku Harian

Ditulis oleh targetmillenia di/pada April 21, 2008

Menulis buku harian kaya anak-anak sekolah. Curhat tentang kejadian sehari-hari. Lebih bebas dan aman karena kontrol seratus persen ada ditangan kita. Kalo kita curhat sama temen atao orang lain yang kita percaya ga ngejamin 100% aman. Karena situasi bisa aja berubah, dari temen bisa jadi musuh. Dan hal-hal yang seharusnya bisa tersimpan rapi di dalam “lemari” bisa di obral sana-sini. Menyakitkan….

Dominasi gender tertentu perihal buku harian seharusnya ga berlaku. Tapi “kesepakatan” dalam masyarakat udah menjadi “sah” bahwa yang biasa nulis buku harian cuma cewe’. Ga ada yang salah untuk punya buku harian karena itu adalah sarana untuk numpahin isi hati yang cukup aman dan murah. Kadangkala kita perlu untuk cerita ke orang lain untuk ngedapetin komentar/usul sebaiknya solusi yang pantas dan enak itu seperti apa.

Tapi itu semua hanya pilihan.

Ditulis dalam Hariku | yang berkaitan: , , | Tidak ada komentar »

Ekstrem Kuliner

Ditulis oleh targetmillenia di/pada April 18, 2008

Acara TV yang tayang di Global TV.

Presenter yang cantik mempertontonkan keberaniannya memakan sejumlah makanan yang bagi kebanyakan orang ga lazim. Ada bajing, tikus, cacing, dan lain-lain setelah tentunya diolah sesuai kebiasaan di daerah tertentu.

Untuk sisi informasi dan hiburan itu hal yang biasa dan ga perlu diperdebatkan. Tapi bila ditarik ke wilayah syar’i tentu menjadi hal yang wajib diperdebatkan. Mayoritas warga Indonesia adalah muslim dan dalam aturan syar’i tidak semua mahluk hidup dan bahan makanan lain bisa di makan / di konsumsi.

Seperti mahluk yang hidup di dua alam dan mahluk yang punya taring dan kuku tajam. Masih banyak lagi persyaratan yang harus di perhatikan ketika kita mau mengkonsumsi mahluk hidup atau bahan makanan yang tersedia di alam. Dalam daur hidup/ rantai makanan posisi manusia menempati tempat paling tinggi alias bisa memakan apa yang ada di alam tanpa ada saingan yang bisa memakan manusia dengan alasan mempertahankan hidup / karena emang itu makanan pokoknya.

Adanya aturan yang dibuat dalam agama pasti dengan maksud agar keseimbangan alam terjaga dan manusia sebagai peng-konsumsi tngkat paling atas dapat terjaga kesehatannya pula. Karena tidak semua yang tersedia di alam ini bagus/baik untuk dikonsumsi.

Kembali ke permasalahan awal bahwa di dalam paket acara Ekstrem Kuliner itu segi positifnya kita jadi bisa tau makanan apa aja yang ada di sekitar kita dan dapat kita konsumsi. Tapi pada saat yang bersamaan perlu juga diberikan edukasi bahwa untuk makanan-makanan tertentu yang tidak memenuhi persyaratan syar’iyah dengan sendirinya tidak boleh di konsumsi oleh kaum muslim.

Sebuah masukan bagi pemrakarsa ide dan pembuat paket acara TV agar dapat memberikan bukan saja informasi demi rating pemirsa yang tinggi tapi juga bisa memberikan edukasi yang bermanfaat terutama bagi mayoritas muslim. Mayoritas yang terabaikan.

Ditulis dalam Hariku | yang berkaitan: , , , , | Tidak ada komentar »